Serenada Violet
karya WS Rendra
Lalu terdengarlah suara
dibalik semak itu
sedang bulan merah mabuk
dan angin dari selatan.
Lalu terbawa bauan sedap
bersama dengan desahan lembut
sedang serangga bersiuran
di dalam bayangan gelap.
Tujuh pasang mata peri
terpejam di pepohonan.
Dengan suara lembut aneh
dan bau sedap dari jauhan
datanglah fantasi malam.
Lalu terdengarlah suara
di balik semak itu
pucuk rumput bergetaran
kali mengalir tanpa sadar.
Sebuah pasangan mata
telah dikawinkan bulan
(dari Kumpulan Puisi Empat Kumpulan Sajak); hal 20
Rendra, WS.1990. Empat Kumpulan Sajak. Jakarta:...
Rabu, 01 Januari 2014
Senja di Pelabuhan Kecil (karya Chairil Anwar)
Senja di Pelabuhan Kecil
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut,
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini, tanah, air tidur, hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekeli tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa
terdekap
Kasnadi, S. d. (2009). Menulis Kreatif: Kiat Cepat Menulis Puisi dan Cerpen (Edisi Revisi). Yogyakarta: Pustaka Felicha.
(buat Sri Ayati)
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut,
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini, tanah, air tidur, hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekeli tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa
terdekap
(Chairil Anwar, 1946)
Kasnadi, S. d. (2009). Menulis Kreatif: Kiat Cepat Menulis Puisi dan Cerpen (Edisi Revisi). Yogyakarta: Pustaka Felicha.
Senin, 30 Desember 2013
MEMOAR
MEMOAR
Oleh: Apriliana Permata
Duhai
bulan penjaga malam
Mata
sayu itu memandang menerawang ke langit senja
Mengingatkan
aku akan kenangan satu tahun lalu
Masihkah
kau ingat
Gurat
senyum diwajahmu tak mampu kuhapus dari keningku
Kita
terduduk dikala senja
Sambil
mengucap ribuan mantra
Yang
tersimpan diantara bayangan cinta
Dan
kau melangkahkan kaki mungilmu telusuri jalan senja
Seketika
sirna
Bersama
bulan dan gulita
Hilang
asaku tersapu ombak di tepi jalan
Menapaki
liang-liang bebatuan
Diantara
rintik-rintik hujan hangat.
Jeritan Alam dan Manusia
Jeritan Alam
dan Manusia
oleh: Apriliana Permata
Apakah
ini akhir dunia yang kami huni?
Mereka
manusia-manusia ribut
Tak
perduli sesama anak negeri
Yang terpikir hanya korup dan rebut
kursi
Hingar-bingar kota terasa berteriak-teriak
meminta berhenti
Alam
pun ikut berdemo menentang kejadian ini
Bumi
berkata
masih
adakah manusia yang perduli padaku?
Kutumpahkan
lahar di Jogja
Kuhempaskan
banjir di ujung Jawa
Segala
pertanda telah aku beri
Tapi kamu tak
perduli
Kekayaanku
telah kau rampas
Hutanku
telah kau gunduli
Lautku
telah kau rusak
Udara juga telah kau cemari polusi
Lindungi
aku agar dapat bertahan
Dapat
berikan nafas kehidupan
Untukmu….
Manusia
Lindungi
aku, jangan rampas hak milikku
TUHAN!
Marahkah kau pada kami?
Atas
semua yang kami perbuat
Tuhan,
Engkau Yang Maha Perkasa
Izinkan
kami songsong mentari di esok pagi
Minggu, 25 November 2012
KEPADA PEMINTA-MINTA (karya Chairil Anwar)
KEPADA PEMINTA-MINTA
KARYA CHAIRIL ANWAR
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menjerahkan diri dan segala dosa
Tapi djangan tantang lagi aku
Nanti darahku djadi beku
Djangan lagi kamu bertjerita
Sudah tertjatjar semua dimuka
Nanah meleleh dari muka
Sambil berdjalan kau usap djuga
Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah
Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku dibumi keras
Dibibiku terasa pedas
Mengaum ditelingaku
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menjerahkan diri dan segala dosa
Tapi djangan tantang lagi aku
Nanti darahku djadi beku
Referensi:
Jassin, H.B (1954). Kesusastraan Indonesia Modern Dalam Kritik Dan Essay. Djakarta: Penerbit Gunung Agung.
Langganan:
Postingan (Atom)